Pages

Twitter

twitter @aulia_iskandar

Monday, November 15, 2010

Membuat Bom Asap


Setelah bosan bercurhat ria pada posting blog sebelumnya, kali ini saya akan membuat posting prosedur dengan judul "Membuat Bom Asap"

Sebelum memulai membuat bom asap, sebaiknya diperhatikan bahwa dalam membuat bom asap harus diperlukan kewaspadaan dan kehati-hatian yang tinggi dengan sedikit keterampilan.

Bahan:
-Potassium nitrate (KNO3)
-Gula Pasir
-Alumunium Foil
-Sumbu

Alat:
-Wadah untuk mengaduk larutan (e.g. panci, wajan, dll)
-Pembakar spirtus
-
Sarung tangan kain
-Gunting
-Stirrer

Cara memebuat:
-Campurkan potassium nitrate dengan gula pasir dengan perbandingan massa 2:5 di wadah pembakaran
-Panaskan dengan pembakar spirtus dengan api yang kecil sambil diaduk dengan stirrer. Aduk dengan hati-hati, karena jika api terlalu panas dan adoonan tidak diaduk dengan benar maka adonan akan terbakar dan menciptakan asap yang banyak. Karena itu disarankan untuk membuat adonan ditempat terbuka.
-Saat adonan sudah menjadi coklat kental (seperti karamel), tuang adonan di alumunium foil, lalu bentuk sesuka anda (jangan lupa pakai kaus tangan, karena adonan sangat panas). Jangan lupa bentuk sumbunya.
-Diamkan hingga adonan mengeras.
-Bom siap dipakai dengan membakar ujung sumbu yang ditanam dalam adonan.

Sebagai tambahan saya tidak bertanggung jawab atas kecelakaan yang ditimbulkan oleh kegiatan ini.

Semoga Bermanfaat!

Friday, November 5, 2010

Pengalaman Berharga

Kami baru selesai shalat Jum'at dan memakai alas kaki kami masing-masing. Aku dan teman-teman kelas bersama-sama mengambil sepatu masing-masing dan duduk di tepian untuk memakai sepatu. Setelah selesai, aku berdiri sambil mengulurkan tangan meminta bantuan teman untuk menarik tanganku, "Dam, bantuin gua". Adam menarik tanganku untuk berdiri bersama Ashfi. "Yah, harusnya lu lompat, yo", adalah kata perintah dari Adam, terakhir sebelum sebuah kejadian menimpa diriku. "Oh, iya, yaudah ulang, ulang", balasku. Ashfi bersiap, begitupun Adam.

Rombongan adik kelas wanita berjalan menyusuri jalur menuju masjid. Bibi pengurus dapur terlihat kembali menuju dapurnya di belakang masjid. Dan lelaki kembali ke kelas masing-masing sebelum sebuah hal menarik perhatian mereka. "Bruk", lututku lemas mengetahui kejadian ini. Semua orang memandangiku. Aku terjatuh dengan lutut dan tangan di bawah. Kepalaku hampir menabrak paving block yang terdapat di jalan. Aku hampir menabrak rombongan wanita yang menuju masjid. Aku gagal dalam melompat.

Aku sadar dan memaksa kakiku berjalan ke tepian terdekat. Aku duduk menahan rasa sakit yang tidak pernah kubayangkan. Aku meluruskan kakiku dan semua orang mengerumuniku termasuk bibi dapur. Pandanganku perlahan menghitam. Telingaku tak mendengar. Aku bingung. Aku merasakan keadaan buta dan tuli. Aku hanya mendengar orang-orang bersahutan berbicara. Aku memaksa mataku melihat, tapi semuanya gelap. Aku berpikir ini adalah efek dari jatuh tadi. Aku panik, tak tahu apa yang harus kulakukan. Hatiku bergumam, "Ya Allah jangan cabut penglihatan dan pendengaranku". Aku tak merasakan apa-apa. Aku berkata, "Gua gak bisa ngeliat!". Dan aku tahu kalau kerumunan semakin ramai, karena aku mendengan suara bising seperti kipas angin rusak semakin ramai di telinga. "Akh!", Aku semakin panik, penglihatan belum kembali. pendengaran semakin tidak jelas.

Sebuah kata muncul dalam pikiranku, "inilah hal terburuk yang pernah kualami". Aku yang tidak pernah merasakan kegelapan saat membuka mata, tidak pernah merasakan samarnya suara seorang kawan yang berjarak setengah meter dariku, merasa sedih, dan bercampur rasa panik. "Apakah tadi saat terakhirku melihat?", "Apakah aku mendapat status baru sebagai seorang penyandang cacat tuna rungu?", dan yang terakhir, "Apakah aku akan mulai pakai kursi roda?", adalah pertanyaan-pertanyaan dari kepanikan dalam benakku. Hampir seluruh kepanikan menguasai diriku dan membuat diriku gila, namun aku harus tegar. Hingga aku berhasil menguasai diri.

Tiba-tiba sebersit cahaya muncul dari mataku. Tepat di tengah mata. Lalu cahaya itu mulai melebar dan menyebar di seluruh mataku. Aku mulai bisa melihat semua orang yang mengerumuniku. Mereka menatap padaku. Aku berdiri. "Ayo balik ke kelas", aku berbicara pada teman-temanku yang kebingungan. Mereka merangkulku berdiri, karena kakiku masih sakit untuk digerakkan. Kerumunan mulai bubar. Aku belum bisa mendengar begitu jelas, namun aku mengerti apa yang mereka katakan.

Begitu sampai di kelas aku sudah mulai bisa mendengar. Mereka mengatakan semua hal yang terjadi saat aku tidak melihat dan mendengar. Mereka bilang kalau bibi menasihatiku untuk tidak melakukan hal yang berbahaya. Mereka juga bilang kalau mereka mengibas-ngibaskan tangan mereka diwajahku. Aku tidak menyadari hal tersebut hingga aku ingat kejadian terakhir sebelum tubuhku jatuh tadi. Adam menarik tangan kananku terlalu kencang dan terlalu lama, sementara Ashfi menarik tangan kiriku terlalu pelan, dan lepas sebelum Adam melepas tanganku, dan kakiku menopang terlalu sebentar. Aku terlempar, bukan melompat. Tidak seimbang. Dan aku jatuh dari ketinggian yang cukup tinggi untuk mendarat dengan tempurung lutut. Aku menyadarinya. Bahkan lompatan sederhana butuh persiapan, dan tidak boleh main-main. Aku akan berusaha mengambil hal ini sebagai pelajaran. "Haah", kini pun aku menghela nafas mengenang kejadian tadi.

Wednesday, November 3, 2010

Tidak Mengeluh dan Bersyukur





Hari ini adalah hari yang cerah sebelum mendung tiba. "Huh", pikirku, "Hari hujan lagi, hari ini aku harus pulang basah kuyup". Dari sekolah aku berusaha menceriakan diriku untuk pulang ke rumah. Aku pulang berdua temanku naik angkot langganan, yang supirnya tidak kenal kita dan kita tidak kenal supir. Ketika aku pulang dalam pikiranku terus berucap segala macam sumpah serapah kepada cuaca hari ini, "Sial!, sial!, sial!", padahal segala perkataan dalam pikiran yang abstrak tersebut tidak akan mampu mengubah awan yang ukurannya jauh lebih besar dan jauhnya jauh lebih jauh dari jangkauan tanganku ini. Aku berusaha tetap bersabar, apalagi aku telah dibuat kelaparan karena dinginnya cuaca.

"Beuhh", aku bergumam ketika aku sudah sampai tujuan. "Kiri bang!", sahutku memerintah supir angkot. Ketika aku turun, aku melihat sepanjang jangkauan mataku dan bergumam lagi, "tidak ada yang salah hari ini, kecuali cuaca". Aktifitas warga tetap normal walaupun hujan mengeroyok setiap jengkal bagian tubuh mereka.

Ibuku telah menunggu untuk menjemputku di tempat biasa dengan kuda besi setia andalanku yang tidak pernah pup sembarangan dan tidak pernah kawin lari seperti kucing temanku. Saat sudah siap diatas pelana, kuda pun mulai berjalan dan berlari menuju tujuan.

Saat ditengah perjalanan menuju rumah, beberapa bopung (Bocah Kampung) bersahutan sambil naik sepeda. Mereka tersenyum riang dan bermain dengan gembira bersama teman mereka. Aku teringat pada masa laluku. Masa laluku yang penuh dengan kepolosan anak kecil dan keriangan bermain. Aku teringat pada masa laluku yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, apalagi terhadap hujan yang merupakan nikmat Tuhan yang Maha Pemurah. Aku termenung, "Ah, coba kalau aku seperti dulu". Aku berandai-andai memikirkan kepolosan anak kecil yang lugu sambil berkaca kepada diriku sekarang. Aku merasa tidak lebih baik dari seorang anak kecil yang tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur. Sepertinya aku telah menyia-nyiakan banyak waktu dalam hidupku. Aku tidak bisa membuat sifat yang lebih baik, atau paling tidak mempertahankannya. Aku malah mengalami kemunduran dalam sifatku. Aku berharap aku bisa merubah sifatku, menghapus image buruk diriku, dan menulis kebaikan sebagai gantinya.

Aku pun sampai rumah, membawa pelajaran berharga yang kudapat tidak hanya disekolah, melainkan dijalanan, yaitu berusaha bersabar, tidak mengeluh dan mensyukuri segala apa yang kita dapatkan, karena kehidupan kita bergantung pada kita yang menjalaninya, apakah kita akan menganggap keburukan terhadap apa yang kita jalani atau kebaikan? Jawabannya terdapat pada realisasi anda dalam menghadapi kehidupan ini. Semoga Bermanfaat!