Kami baru selesai shalat Jum'at dan memakai alas kaki kami masing-masing. Aku dan teman-teman kelas bersama-sama mengambil sepatu masing-masing dan duduk di tepian untuk memakai sepatu. Setelah selesai, aku berdiri sambil mengulurkan tangan meminta bantuan teman untuk menarik tanganku, "Dam, bantuin gua". Adam menarik tanganku untuk berdiri bersama Ashfi. "Yah, harusnya lu lompat, yo", adalah kata perintah dari Adam, terakhir sebelum sebuah kejadian menimpa diriku. "Oh, iya, yaudah ulang, ulang", balasku. Ashfi bersiap, begitupun Adam.
Rombongan adik kelas wanita berjalan menyusuri jalur menuju masjid. Bibi pengurus dapur terlihat kembali menuju dapurnya di belakang masjid. Dan lelaki kembali ke kelas masing-masing sebelum sebuah hal menarik perhatian mereka. "Bruk", lututku lemas mengetahui kejadian ini. Semua orang memandangiku. Aku terjatuh dengan lutut dan tangan di bawah. Kepalaku hampir menabrak paving block yang terdapat di jalan. Aku hampir menabrak rombongan wanita yang menuju masjid. Aku gagal dalam melompat.
Aku sadar dan memaksa kakiku berjalan ke tepian terdekat. Aku duduk menahan rasa sakit yang tidak pernah kubayangkan. Aku meluruskan kakiku dan semua orang mengerumuniku termasuk bibi dapur. Pandanganku perlahan menghitam. Telingaku tak mendengar. Aku bingung. Aku merasakan keadaan buta dan tuli. Aku hanya mendengar orang-orang bersahutan berbicara. Aku memaksa mataku melihat, tapi semuanya gelap. Aku berpikir ini adalah efek dari jatuh tadi. Aku panik, tak tahu apa yang harus kulakukan. Hatiku bergumam, "Ya Allah jangan cabut penglihatan dan pendengaranku". Aku tak merasakan apa-apa. Aku berkata, "Gua gak bisa ngeliat!". Dan aku tahu kalau kerumunan semakin ramai, karena aku mendengan suara bising seperti kipas angin rusak semakin ramai di telinga. "Akh!", Aku semakin panik, penglihatan belum kembali. pendengaran semakin tidak jelas.
Sebuah kata muncul dalam pikiranku, "inilah hal terburuk yang pernah kualami". Aku yang tidak pernah merasakan kegelapan saat membuka mata, tidak pernah merasakan samarnya suara seorang kawan yang berjarak setengah meter dariku, merasa sedih, dan bercampur rasa panik. "Apakah tadi saat terakhirku melihat?", "Apakah aku mendapat status baru sebagai seorang penyandang cacat tuna rungu?", dan yang terakhir, "Apakah aku akan mulai pakai kursi roda?", adalah pertanyaan-pertanyaan dari kepanikan dalam benakku. Hampir seluruh kepanikan menguasai diriku dan membuat diriku gila, namun aku harus tegar. Hingga aku berhasil menguasai diri.
Tiba-tiba sebersit cahaya muncul dari mataku. Tepat di tengah mata. Lalu cahaya itu mulai melebar dan menyebar di seluruh mataku. Aku mulai bisa melihat semua orang yang mengerumuniku. Mereka menatap padaku. Aku berdiri. "Ayo balik ke kelas", aku berbicara pada teman-temanku yang kebingungan. Mereka merangkulku berdiri, karena kakiku masih sakit untuk digerakkan. Kerumunan mulai bubar. Aku belum bisa mendengar begitu jelas, namun aku mengerti apa yang mereka katakan.
Begitu sampai di kelas aku sudah mulai bisa mendengar. Mereka mengatakan semua hal yang terjadi saat aku tidak melihat dan mendengar. Mereka bilang kalau bibi menasihatiku untuk tidak melakukan hal yang berbahaya. Mereka juga bilang kalau mereka mengibas-ngibaskan tangan mereka diwajahku. Aku tidak menyadari hal tersebut hingga aku ingat kejadian terakhir sebelum tubuhku jatuh tadi. Adam menarik tangan kananku terlalu kencang dan terlalu lama, sementara Ashfi menarik tangan kiriku terlalu pelan, dan lepas sebelum Adam melepas tanganku, dan kakiku menopang terlalu sebentar. Aku terlempar, bukan melompat. Tidak seimbang. Dan aku jatuh dari ketinggian yang cukup tinggi untuk mendarat dengan tempurung lutut. Aku menyadarinya. Bahkan lompatan sederhana butuh persiapan, dan tidak boleh main-main. Aku akan berusaha mengambil hal ini sebagai pelajaran. "Haah", kini pun aku menghela nafas mengenang kejadian tadi.
hahaha ccd
ReplyDeleteasfi banget bahasanya
ReplyDeletetolol seh lo...udh brp thun brtmen ama gw,tp msh bgtu2 aj u..hahahaa
ReplyDeletets berteman dengan orang yang salah(Rizky as)
ReplyDeleteEmang salah ama yang beginian
ReplyDelete