Pages

Twitter

twitter @aulia_iskandar

Wednesday, November 3, 2010

Tidak Mengeluh dan Bersyukur





Hari ini adalah hari yang cerah sebelum mendung tiba. "Huh", pikirku, "Hari hujan lagi, hari ini aku harus pulang basah kuyup". Dari sekolah aku berusaha menceriakan diriku untuk pulang ke rumah. Aku pulang berdua temanku naik angkot langganan, yang supirnya tidak kenal kita dan kita tidak kenal supir. Ketika aku pulang dalam pikiranku terus berucap segala macam sumpah serapah kepada cuaca hari ini, "Sial!, sial!, sial!", padahal segala perkataan dalam pikiran yang abstrak tersebut tidak akan mampu mengubah awan yang ukurannya jauh lebih besar dan jauhnya jauh lebih jauh dari jangkauan tanganku ini. Aku berusaha tetap bersabar, apalagi aku telah dibuat kelaparan karena dinginnya cuaca.

"Beuhh", aku bergumam ketika aku sudah sampai tujuan. "Kiri bang!", sahutku memerintah supir angkot. Ketika aku turun, aku melihat sepanjang jangkauan mataku dan bergumam lagi, "tidak ada yang salah hari ini, kecuali cuaca". Aktifitas warga tetap normal walaupun hujan mengeroyok setiap jengkal bagian tubuh mereka.

Ibuku telah menunggu untuk menjemputku di tempat biasa dengan kuda besi setia andalanku yang tidak pernah pup sembarangan dan tidak pernah kawin lari seperti kucing temanku. Saat sudah siap diatas pelana, kuda pun mulai berjalan dan berlari menuju tujuan.

Saat ditengah perjalanan menuju rumah, beberapa bopung (Bocah Kampung) bersahutan sambil naik sepeda. Mereka tersenyum riang dan bermain dengan gembira bersama teman mereka. Aku teringat pada masa laluku. Masa laluku yang penuh dengan kepolosan anak kecil dan keriangan bermain. Aku teringat pada masa laluku yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, apalagi terhadap hujan yang merupakan nikmat Tuhan yang Maha Pemurah. Aku termenung, "Ah, coba kalau aku seperti dulu". Aku berandai-andai memikirkan kepolosan anak kecil yang lugu sambil berkaca kepada diriku sekarang. Aku merasa tidak lebih baik dari seorang anak kecil yang tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur. Sepertinya aku telah menyia-nyiakan banyak waktu dalam hidupku. Aku tidak bisa membuat sifat yang lebih baik, atau paling tidak mempertahankannya. Aku malah mengalami kemunduran dalam sifatku. Aku berharap aku bisa merubah sifatku, menghapus image buruk diriku, dan menulis kebaikan sebagai gantinya.

Aku pun sampai rumah, membawa pelajaran berharga yang kudapat tidak hanya disekolah, melainkan dijalanan, yaitu berusaha bersabar, tidak mengeluh dan mensyukuri segala apa yang kita dapatkan, karena kehidupan kita bergantung pada kita yang menjalaninya, apakah kita akan menganggap keburukan terhadap apa yang kita jalani atau kebaikan? Jawabannya terdapat pada realisasi anda dalam menghadapi kehidupan ini. Semoga Bermanfaat!

4 comments: